Berusaha

Memang cukup mendadak.

Tapi coba bayangkan ini.

Bagaimana jika tiba-tiba dirimu terbangun di suatu tempat antah beranta?

Sendiri dan hanya ditemani angin yang bertiup cukup kuat.

Sekeliling hanyalah padang rumput kosong.

Rumputnya bergoyang karna angin.

Kamu yang saat itu mulai mengumpulkan seluruh kesadaran pun hanya bisa bingung tanpa bisa berkata apa-apa.

Tidak ada seorang pun yang bisa kamu tanyain.

Bahkan buruknya kamu tidak memiliki ingatan apapun.

Ingatan masa lalu sama sekali tidak ada, nama pun tidak ada di dalam ingatanmu.

Kemudian kamu bangun dengan tenaga yang mulai kamu kumpulkan.

Sekali lagi melihat ke sana ke mari sembari berusaha mencari ingatan yang ada.

Namun hasilnya nihil.

Kamu tidak menemukan apapun dan tidak mengingat apapun.

Hanya tempat kosong dan ingatan hampa yang ada.

Untuk beberapa saat dirimu mulai jatuh dalam lamunan hingga akhirnya terbesit dari pandanganmu suatu bayangan yang samar.

Tanpa pikir panjang kamu berusaha mengejarnya.

Namun...

Itu hanyalah ilusi yang dibuat oleh pikiranmu.

Sadar akan hal itu, kamu kembali terjatuh dalam lamunan.

Angin masih bertiup seakan berusaha menemani dirimu saat itu.

Namun sama sekali tidak ada petunjuk yang bisa kamu temukan.

Pasrah akan keadaan, kamu mulai berjalan melawan arah angin berhembus.

Memang kamu rasa mengikuti arah angin adalah pilihan yang bijak.

Namun ada suatu hal yang entah mengapa menarik dirimu untuk melakukan hal berlawanan.

Saat itulah kamu bertemu dengan seseorang.

Orang yang membelakangimu, tapi kali ini bukan ilusi.

Tenaga yang entah muncul darimana pun mendorongmu untuk berlari.

Akan tetapi sesampai ke orang tersebut, tenaga yang sebelumnya terasa lenyap seketika.

Itu memang "seseorang".

Tapi itu saat berusaha kamu panggil, dia seakan tidak melihat dirimu.

Kamu yang tidak tau kapan lagi bisa bertemu orang lagi pun berusaha memberi tahu orang itu kalau dirimu ada.

Namun tetap sia-sia.

Dirimu pun kembali jatuh ke dalam lubang kebingungan.

Dengan berat hati, kamu pun lanjut berjalan melawan arah angin dan meninggalkan orang tersebut.

Beberapa saat pun kamu melihat orang dari kejauhan.

Seperti sebelumnya, kamu berlari menghampiranya.

Namun seperti sebelumnya, "seseorang" itu sama seperti "seseorang" sebelumnya.

Kamu melakukan hal yang sama sebelumnya.

Kemudian mengalami hal yang serupa lagi.

Dan ini terjadi berulang.

Entah sudah berapa kali, kamu sudah lupa hitungannya.

Yang jelas, kebingunganmu mulai berubah menjadi keputusasaan.

"Apa diriku sendiri?"

"Apa ini akan terjadi terus menerus?"

"Sampai kapan ini akan terjadi?"

Dan banyak lagi pertanyaan yang muncul pada benakmu.

Hingga akhirnya dirimu mulai menyerah.

Dirimu hanya berjalan tanpa memperdulikan apapun.

Siapa pun yang kamu lihat pun mulai kamu anggap layaknya angin yang sejak awal menemanimu.

Terlalu memikirnya adalah sesuatu yang sia-sia.

Jadi kamu mulai berhenti berpikir.

Akhirnya dirimu pun terjatuh.

Tenaga kali ini benar-benar meninggalkan kakimu.

Tapi hal itu bukanlah masalah.

Lagipula menurutmu semuanya akan sia-sia saja.

Dirimu sudah sangat putus asa.

Kamu hanya ingin semua berakhir.

Entah bagaimana itu caranya.

Matamu pun terasa kabur.

Kegelapan mulai menyelimuti padanganmu.

Tapi kamu tidak peduli akan hal itu.

Kamu hanya mengikutinya.

Memang masih ada sedikit harapan.

Tapi harapan itu adalah apa yang tengah kamu alami.

Jadi kamu puas akan hal itu.

Dan akhirnya kegelapan sepenuhnya menutupi dirimu.

...

...

...

...

...